Kucha dan Perawatan Kucing Pasca Steril

Seperti lazimnya operasi, steril pada kucing membutuhkan perawatan lanjutan. Perawatannya bisa jadi lancar, bisa jadi ada masalah, dan bukan tak mungkin disambangi sumber penyakit selagi imunitasnya menurun. Duuuh, serem ya.. Buat  cat pawrents yang belum pernah mensterilkan kucingnya, kalimat di atas mungkin akan memunculkan khawatir berlebihan. Namun yang perlu diketahui, pembedahan dilakukan berdasarkan standar operasional prosedur kedokteran hewan. 

Untuk meminimalisir kekhawatiran, operasi pengangkatan rahim atau testis dapat dilakukan di klinik dengan fasilitas lengkap. Pada pra operasi, akan dilakukan pengecekan lebih detail terkait riwayat kesehatan kucing, dan deteksi lanjutan jika diperlukan misalnya melalui tes darah, rontgen, USG, dsb. Penanganan detail ini akan menenteramkan tentu saja. Beda halnya dengan operasi steril lewat jalur subsisdi.

Baca juga: Rambo, Kucing Baru Parkiran Kompas

Steril subsidi

Mengapa ada steril subsidi? Saya sendiri belum pernah bertanya langsung kepada komunitas penyelenggara steril subsidi yang pertama kali membuat program ini. Sepengetahuan saya, adalah Steril Yuk yang mengenalkan steril subsidi kepada para catpawrents di Bandung. Tujuannya tak lain untuk mencegah over populasi. Dari sini penyelenggaraan berkembang dari tahun ke tahun. Yang awalnya digelar oleh Perkumpulan Kucing Domestik Bandung (PKDB) dengan bantuan Steril Yuk, lalu PKDB mandiri, berikutnya lahir komunitas-komunitas baru yang juga bergiat sebagai penyelenggara. Tetap, bekerjasama dengan dokter hewan yang memang menyediakan diri untuk memberikan tarif sosial. Ada juga klinik dokter hewan yang memberikan tarif subsidi pada hari-hari tertentu sebagai bagian dari kerja sosialnya. Peserta pun makin meluas. Kalau yang sebelumnya hanya para catpawrents yang membawa anak-anak bulu mereka, berikutnya sudah semakin banyak saja penggiat steril kucing jalanan.

Baca juga: Kucing Hitam dan Mitosnya

Pada penanganan steril subsidi, tetap memenuhi standar operasi sesuai ketentuan. Namun tak sedetail jika operasi dilakukan di klinik dengan tarif normal. Maka biasanya, setiap peserta diminta untuk memastikan kucing-kucingnya sehat sebelum dilakukan pembedahan. Pun setiap peserta diminta dengan berbagai kemungkinan, risiko yang harus ditanggung jika terjadi pada si kucing. Misalnya kucing sudah terpapar virus sebelum operasi, namun belum terdeteksi. Akibatnya, kondisi kucing melemah selepas operasi. Pada kasus ini, bisa jadi bukan hanya berisiko pada steril kucing subsidi, namun pada steril tarif normal juga. 

Jadi harus bagaimana dong? Yang utama, pastikan kondisi kucing sehat. Jika ada kondisi tak terduga, terpantau lebih cepat akan lebih baik untuk penanganan yang segera.

Baca juga: Gli dan Sejarah Hagia Sophia


Penanganan pasca steril

Kondisi tubuh kucing yang baru dioperasi steril, lemah. Tempatkan mereka di ruang yang hangat dan nyaman. Jika sudah bisa makan dan minum, sokong dengan vitamin dan suplemen. Wait, itu hal yang standar. Perlu diketahui juga kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

Apakah kita tahu kalau kucing yang pasca steril terserang virus/bakteri mematikan?

Jawabannya adalah tidak. Harus melalui pemeriksaan dokter dan serangkaian tes. Namun hal mendasarnya adalah kucing tidak mau makan/minum. Biasanya panduan dokter adalah maksimal H+3. Jika hingga sampai H+3 kucing masih belum mau makan, segera kunjungi dokter yang melakukan pembedahan. Tindakan berikutnya mengikuti diagnosis yang didapat sang dokter. 

Baca juga: Fufang, Dongkrak Imunitas

Bagaimana kalau bekas jahitan tak kunjung kering, atau kembali menganga?



Penyebab jahitannya tak kunjung kering disebabkan oleh banyak kemungkinan. Di antaranya bisa jadi karena ada penyakit yang sedang diderita. Misalnya diabetes, yang membuat luka sulit kering. Mungkin juga karena alergi benang. Jika ini yang terjadi, biasanya dilakukan jahit ulang luka steril. Keluarga Rumah Ronin ada yang mengalami. Onye. Udah diberikan obat baru tambahan namun tak kunjung sembuh. Sehingga dilakukan jahit ulang.



Luka steril, dalam kondisi normal akan kelihatan bagus di hari kelima. Setelahnya makin pulih. Tapi ada juga kasus yang muncul luka baru di sekitar luka steril. Ini yang terakhir dialami kucing liar yang menjadi pasien steril. Namanya Kucha.



Lima hari pasca steril, luka mengering. Bagus. Tapi ada semacam bruntus di permukaan kulit, dengan bagian dalam yang mengeras. Akhirnya Kucha dibawa ke dokter yang mengoperasinya. Diberikan obat minum dan oles. Membaik, bruntus menghilang. Kulit licin. Belum selesai. Dalam hitungan sepuluh hari kemudian, lokasi steril kembai menggembung. Kali ini terasa empuk cairan. Bawa kembali ke klinik. Tak bisa Cuma ditusuk jarum, tapi diiris. Artinya.. dibius. Dikeluarkan cairan nanah, dijahit. Untunglah cuma gundukan nanah di permukaan. Tak sampai bagian jahitan dalam. Hingga hari ini Kucha masih dikarantina. Semoga terus membaik.



Jadi, kapan kucing liar dapat dikembalikan ke habitatnya pasca steril?

Baca juga: Kucing Diselamatkan Anjing Dalam Gempa Turki

Ya kalau sudah sembuh. Kalau lancar, sehat, tak ada masalah, seminggu biasanya sudah bisa dilepasliar kembali. Anak foster pasca steril Rumah Ronin biasanya minimal 10 hari baru dilepas, untuk betina. Buat jantan, 2-3 hari. Jangan pernah melepasliarkan kucing yang belum pulih dari luka sterilnya. Jangan pernah, demi alasan apa pun. Sering ada yang bilang ‘ga betah dikandangin’ atau ‘udah ga bisa lama-lama karantina’, dan alasan-alasan lain. Keteledoran kita dapat berujung pada kematian mereka. Jadi pastikan betul-betul siap untuk merawat kucing pasca steril, utamanya kucing liar yang memang diniatkan untuk dikembalikan ke habitatnya.

Baca juga: Fukumara Neko, Sayonara

Selamat mengawal steril para meong ya. Jangan kapok. Pengalaman membuat kita belajar. Dan sebaiknya tak mengambil tindakan suka-suka. Tetap konsultasikan dengan dokter hewan. 

Oiya, Kucha perlu rumah ya.. barangkali ada yang mau adopsi, jadikan anak cantik ini keluarga




No comments