Merawat Bayi Kucing Tanpa Induk

By dhenok hastuti - September 05, 2019

Siapa yang dengan sukaria mau merawat bayi baru lahir dan tanpa induk? Mungkin tak akan ada yang angkat tangan kalau di sebuah forum diajukan pertanyaan tersebut. Atau kalau di medsos, paling hanya akan berbagi komen ‘up’ dan berharap ada orang lain bisa melakukan. Kenapa? Karena merawat bayi kucing tanpa induk itu berat, Ferguso!
 
Delilah, ditemukan di usia 2 harian

Bintang, ditemukan di usia sektar 3 minggu

Sayangnya, fakta bayi kucing tanpa induk ini bisa dengan mudah kita jumpai di sekitar kita. 

a. Induk kucing yang tiba-tiba meninggal. Biasanya karena mendapat celaka. Jarang ditemukan kasus induk mati karena sakit infeksius. Karena kalau itu terjadi, anak-anaknya sudah lebih dulu tertular dan hidupnyapun tak akan lama, bahkan sudah mendahului induknya. 

   b. Induk yang menolak menyusui lalu meninggalkan anak-anaknya. Mungkin dia hamil di usia yang terlalu muda. Atau ya memang dia tak suka punya anak. Ingat, kucing kawin hanya mengikuti naluri. Jadi buat yang anti steril, catat ya, kucing juga sangat mungkin ogah mengurus anak. Karena naluri tak selalu diikuti rasa bertanggungjawab atau tuntutan perasaan keibuan. 

   c. Hal lain yang banyak kita temukan adalah keterlibatan manusia. Persisnya kedunguan manusia yang memisahkan bayi-bayi kucing dari induknya. Nah kalau fakta ini ada di depan mata kita, apa kita bisa tutup mata? Jawabnya sudah pasti tidak. Kita akan berusaha semampunya untuk merawat.
Kalau kita cari kata kunci di mesin pencari, banyak kita temukan tips terkait mengurus bayi kucing tanpa induk. Tapi di sini aku mencoba berbagi dari pengalaman sendiri, yang tentunya juga berangkat dari aneka masukan dan saran dari kawan permeongan dan dari vet.

Kalau bicara soal pengalaman, sebetulnya pengalamanku pun tak banyak. Jadi, mari sama-sama belajar saja. Mengalami sih memang beberapa kali, tapi banyak yang gagal.
·       Paling pertama, sejauh yang kuingat adalah tiga bayi kucing yang dibuang orang di pinggir sungai. Terbayang kan betapa miskin hati orang yang melakukan itu. Dia bermaksud membiarkan para bayi itu mati, tapi tak punya keberanian buat membunuh langsung. Misalnya melempar ke sungai. Mungkin dianggapnya berdosa membunuh bayi kucing. Tapi apa bedanya membuang ke pinggir sungai? Dia hanya akan membiarkan bayi-bayi itu mati pelan-pelan. Saat itu belum banyak berteman dengan kalangan perkucingan. Sungguh tak tahu harus menyuapinya dengan susu apa menggunakan apa. Tak ingat, dulu menyuapinya dengan susu apa..tapi aku ingat menyuapi bayi-bayi tak berdaya itu dengan kapas. Tiga ekor. Sedangkan jam kerjaku saat itu masih full. Begitulah, satu per satu mereka tak bertahan.
·       Kali lain (yang kuingat), empat bayi dalam kardus yang disertai dengan surat. Menitip bayi untuk dirawat. Sopan? Nope! Pagi yang diwarnai dengan amukan. Halooooo..bayi merem ini perlu induk, jangan pisahkan! Pagi aku mencoba menyuapi susu seadanya. Sudah terhubung dengan bapak kucing yang akan memberikan dot susu. Aku hanya perlu mengambilnya. Ke Ujung Berung! Bayangkan jauhnya. Pulang kerja sekitar jam 8 malam aku memenuhi janji ambil botol susu. Begitu sampai rumah, tahukah apa yang terjadi? Pemandangan yang bikin syok: bayi-bayi tercabik, terluka parah, mati. Seekor masih kutemukan bernafas, tapi segera menyusul tiga saudaranya. Mereka diserang kucing garong. Saat itu area belakang rumah memang sering disambangi kucing liar.

Pendek kata mengurusi bayi kucing ini banyak mendatangkan kegeraman. Bukan pada bayi-bayinya tentu saja. Tapi lebih pada manusia yang telah tega memisahkan bayi-bayi itu dari induknya.

Cerita di atas adalah tentang bayi-bayi yang masih merem, belum membuka mata. Pada kasus bayi di atas 3 minggu, relatif lebih bisa banyak berharap. Bukan lebih mudah ya..hanya kita bisa berharap lebih banyak. Dengan catatan, si bayi belum terlalu lama terpisah dari induknya. Kurasa dua hari saja dia terpisah dari induknya, kondisinya bakal buruk. Di luar kita tak tahu apa yang terjadi. Kedinginan, keanginan, kehujanan, serangan kucing yang lebih besar atau hewan lainnya. 

Beberapa kali sempat merawat kucing yang ditinggal induknya di usia cukup besar. Masih di bawah sebulan tapi sudah cukup mandiri. Namun tetap, tanpa induk akan cukup berat merawatnya terlebih jika kita tak bisa memberi mereka perhatian ekstra. Waktu yang leluasa dan pemberian makanan bergizi serta vitamin dan suplemen penunjang. Sayangnya aku juga tak pada semua masa itu mampu melakukannya. Lalu bayi-bayi itupun menghuni halaman depan dan belakang rumah. Menjadi rabuk bagi bumi. Rest in peace, bayi-bayi meong.. Bintang adalah salah satu yang berhasil kurawat sampai besar. Dari bayi umur belum sebulan. Bersyukur dia bayi yang pintar dan cepat belajar. Badannya pun langsung bisa menyesuaikan dengan aktivitas ibunya di luar rumah. Semoga anak ganteng ini menemani ibu sampai tua.

Dari sekian pengalaman, baik yang berhasil maupun gagal, berikut coba kubikin langkah-langkahnya sekadar referensi.

Pertolongan Pertama. Segera setelah mendapatkan bayi kucing tanpa induk, tempatkan di ruang yang hangat. Bisa dalam kandang kecil, dengan memberikan lampu hangat. Kalau adanya kardus, tak jadi soal. Yang penting terhalangi dari udara luar. Letakkan kain-kain untuk menambah kehangatan. Yang belum punya lampu, bisa menyimpan botol berisi air panas yang diganti secara berkala. Tapi sebisa mungkin diusahakan menggunakan lampu, terutama untuk bayi-bayi di bawah 3 minggu. Di atas 3 minggu badan mereka mulai beradaptasi dan bisa berada di suhu kamar.

Beberapa hari di rumah, ada yang berbaik hati kirim kamar cantik buat Ila 😍

Badannya kotor sekali! Eits, jangan terburu memandikan. Badan mereka masih lemah. Tapi jika sangat kotor, karena banyak kasus anak-anak kucing yang ditemukan sudah dipenuhi larva lalat. Mau tak mau harus dibersihkan. Gunakan waslap atau handuk dengan air hangat, bersihkan dengan lembut. Sekalian memastikan apakah ada luka di tubuh mungil mereka. Jika mendapati luka atau tampak tak sehat, sebisa mungkin, usahakan bawa ke dokter.

Mereka ini kok berisik ya?! Ya iyalaaaaah..namanya juga bayi. Mereka hanya tahu makan-menyusu ke induknya, hangat dipeluk induknya. Begitu kehilangan mereka akan menangis. Mencari dan minta dipenuhi kelaparannya. Diperlukan kesabaran ekstra pula dalam hal ini.

Menyusui bayi kucing. Nah, mari sekarang kita siapkan susu. Pakai alat apakah? Ada banyak dot kucing yang bisa ditemukan di petshop. Pernah pakai beberapa macam dan sempat jual juga di lapak Rumah Ronin. Tapi sejauh ini masih gagal. Pada tak mau. Entah ada metode yang salah, atau memang kucingnya saja tak suka. Jadi tetap boleh dicoba. Terakhir aku memilih menggunakan syringe/spuit/suntikan (tanpa jarum) dengan ujung dilengkapi potongan penting ban sepeda, sebagai pengganti puting susu induk kucing.

Berapa kali kucing minum susu? Idealnya 2-3 jam sekali. Dalam pengalamanku, karena tak mampu melakukan hitungan itu sepanjang hari, maka menggunakan waktunya adalah malam hari alias begadang. Ya, di malam hari kuusahakan untuk menyusui bayi kucing 2 jam sekali. Karena pada siangnya aku meninggalkan rumah 6 hingga 10 jam. Jika memungkinkan bisa melakukan pemberian susu 2-3 jam sekali lebih baik.

Bagaimana cara memberikan susu? Membuat adukan susu tak perlu terlalu banyak, maksimal untuk 2x penggunaan biar tak basi. Lebih bagus sih untuk sekali minum. Kadang kalau malam terlalu berat mata, jadi aku membuatnya untuk 2x minum. Tingkat kekentalan dikira-kira saja, tak terlalu kental, tak pula terlalu encer. Bagaimana dengan volume? Ada panduan yang menyebutkan anak kucing butuh 8ml/ons berat badan. Bisa sambil dikira-kira saja, untuk tak terlalu kurang atau sebaliknya berlebih dari jumlah tersebut. Terlalu banyak asupan juga dapat membuat bayi diare.

Pemberian susu usahakan bayi kucing dalam posisi duduk atau setengah tengkurap, agar bayi tak tersedak. Selain itu, mereka butuh memijat. Jadi letakkan kain yang agak kasar atau bertekstur mengalasi tangan atau kaki depan kucing. Biarkan sambil ngedot, mereka memijit-mijit mesra kain-kain itu. Sterilkan alat minum (botol/syringe) secara berkala.
Usia dan berat badan kucing menentukan jumlah asupan makanan. Saat mulai belajar makan lebih padat, maka frekuensi susu dikurangi. Volume dapat ditambahkan. 

Poop-pee. Bayi kucing biasanya dibantu induknya untuk pup atau pee. Kalau induknya tak ada, artinya manusia yang kudu ambil peran. Caranya bagainya? Ambil tisu atau kain yang lembut, basahi dengan air hangat lalu tepuk-tepuk ke alat kelamin untuk pee dan ke anus untuk poop. Ada bayi-bayi yang cukup pintar atau responsif, tapi banyak juga yang butuh waktu lama. Sabar yaaaa.. 😊

Oiya, kadang muncul gelembung gas pada mulut dan perut bayi kucing. Bisa bantu mereka mengeluarkan gas dengan menggendong mereka di bahu, lalu menepuk bagian punggung mereka perlahan. 

Obat cacing. Bayi-bayi tanpa induk, apalagi temuan dari lokasi antah berantah, rentan cacingan. Biasanya umur di atas 3 minggu, langsung kukasih obat cacing. Bisa pakai Combantrin anak, dengan takaran 1ml/1kgberat badan untuk Combantrin rasa jeruk, dan Combantrin rasa vanila 0.5ml/1kg berat badan. Maka perlu untuk menimbang bayi kucing secara rutin.

Bagaimana dengan kutu? Nah, ini agak susah. Karena obat kutu akan terlalu keras buat bayi kucing. Bisa konsultasikan dengan dokter. Pada bayi kucing temuan, selain kotor, biasanya juga dipenuhi kutu. Aku lebih memilih untuk membersihkannya manual. Mengelap dengan handuk hangat, dan ketika sudah cukup sehat dan besar, memandikannya secara berkala. Karena kutu sangat mempengaruhi tumbuh kembang bayi kucing. 

Mengelap bayi kucing, selain untuk membersihkan juga menjadi semacam stimulus. Mereka akan mencontoh, belajar membersihkan diri sendiri. 

Kapan bayi kucing bisa dikasih makan? Idealnya sih 4 minggu bayi kucing diperkenalkan makanan padat. Pada kasus Bintang, aku langsung mengenalkannya pada makanan basah. Dengan mengencerkannya, tak terlalu padat. Untuk kasus Laila, aku malah mulai memberikannya sebelum 3 minggu. Saat dia mulai berdiri tegak dan cukup lancar jalan. Makanan encer dengan cara dispet, menggunakan syringe berpentil seperti saat memberinya susu. Kadang mengencerkan makanannya dengan susu.

Perubahan makanan sangat mungkin membuat mereka diare. Maka selalu perhatikan saat mereka poop. Dan perlu untuk selalu menyediakan lacto b. Ini produk paling aman untuk diberikan pada bayi kucing saat mereka diare. Aku menggunakan seperdelapan sachet lacto b sekali minum, saat mereka diare. 


Oiya, sejak awal Laila dikenalkan dengan minyak banleng untuk menghangatkan badannya. Jangan pakai sembarang minyak ya, kucing tak tahan terlalu panas dan tak toleran minyak kayu putih. 

Setelah berkenalan dengan makanan padat, Laila juga mulai dicekok saripati gabus untuk pendukung imunitasnya. Banleng dan saripati gabus bisa belanja di lapak RumahRonin

Mengenalkan litter box. Saat mereka mulai dikasih makanan, sekalian perkenalkan dengan litter box. Pada Laila aku mengenalkan dari usia 2 minggu. Bukan litter box, tapi piring plastik yang ditumpuki potongan koran. Untunglah Laila terhitung pintar. Dia sudah tahu di mana tempat poop-pee. Saat tempat tinggalnya dipindah di kandang, dilengkapi dengan litter box, Laila pun langsung bisa menggunakannya.. (lihat di foto kamar barunya Ila).

Cinta dan perhatian. Ketulusan perasaan kita pada mereka akan sangat membantu  pertumbuhan bayi-bayi kucing telantar. Saat kena imbas kucing buangan, bisa jadi kita akan marah, kesal, lelah..campur aduk. Tak mudah memang, tapi upaya diri untuk lebih ikhlas menjalani merawat mereka, akan sangat baik dampaknya buat bayi-bayi tanpa induk tersebut. Selain makan-minum, menjari poop-pee, pastikan juga mengajak ngobrol, membelai, dan ungkapan-ungkapan yang menghangatkan. 

Beberapa patokan perkembangan kucing
1.     Kucing baru lahir memiliki berat badan 2-4 ons. Usia seminggu, berat badannya akan naik hingga dua kali lipat.
2.     Bayi kucing membuka mata pada umur 8 hari. Mata berwarna biru hingga umur 2 minggu. Setelahnya warna mata akan berubah-ubah, hingga sekitar umur 3 bulan baru muncul warna permanen.
3.     Kuping bayi kucing akan mulai tegak usia 2 minggu. Memasuki 3 minggu bayi kucing  akan belajar berjalan. Umur 4 minggu dia akan mulai nakal #eh mulai bermain dengan kucing lain atau menggigiti aneka barang di sekitar.

Sekali lagi, tak mudah memelihara bayi kucing. Tapi jika kita kebagian peran itu, mari usahakan. Melakukan yang terbaik dan berharap semesta merestui agar si bayi bertahan dan panjang umur.

Selamat menjadi pengasuh bayi kucing 😊

  • Share:

You Might Also Like

25 comments

  1. Mba ini orang yang baik hati dan sabar ya.
    Saya sndr bukan penyuka kucing, terlebih lakgi ibu saya takut sama kucing, semakin kecil kucingnya semakin takut beliau.
    Jadi keluarga kami bukan penggemar kucing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. gapapa, mbak.. asal menyadari kalau mereka juga makhluk hidup yang juga punya hak di atas muka bumi. banyak manusia yg menjahati kucing karena dianggap mengganggu.

      Delete
  2. Mba Dhenok, membaca tulisan mba Sy jadi teringat almarhum ayah yang sangat telaten mengurus kucing dan beberapa hewan. Memandikan, meminumkan susu, memberikan obat, meramu makanan dan mengajak mereka bermain beberapa kali dalam sehari. Tapi sejujurnya, karena masa kecil saya sdh terlampau sering dilibatkan ikut mengurusi hewan-hewan ini saya malah jadinya kurang berminat rendezvous kembali pada aktivitas ini. Entahlah, apa mungkin dulunya saya kurang excited juga menjalani aktivitas itu, sehingga semua yang diminta ayah serasa hanya menjalankan tugas saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga anak2nya kelak kembali jadi penyayang kucing. amin hehehe

      Delete
  3. Jadi ingat pengalamanku saat ada bayi kucing di atap rumah dan aku terpaksa mengeluarkannya karena tak pernah pelihara dan belum ada niat untuk melihara. Untungnya ada tetangga yang rajin beri dia susu

    ReplyDelete
  4. Salut saya dengan cat lover ini. Kayak adik saya yang bungsu juga gitu, kucing jalanan aja dibawa pulang, diurusin, kl hilang dia rungsing deh. Lanjutken, Mbak,, yg kamu lakukan itu keren.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oyaaa... salam buat adiknya ya. salam meoooong :)

      Delete
  5. Imut kali kucing nya mba Dhenok. Aku udah pernah juga merawat bayi kucing yang emaknya lagi post partum syndrome. Lumayan berat kak, sampe mau aku kasih ke adopter, akhirnya gak jadi dikasih karena hari ke 3 kucing nya udah minta anak. Sayangnya si anak gak bertahan lama karena induk kucing belum berpengalaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mbak. kl bayi kucing, ada atau engga emaknya, rentan banget.

      Delete
  6. Mbak ku salut padamu..anak-anakku seneng kucing tapi ki belom punya nyali untuk adopsi atau merawat di rumah. Mereka berdua pengidap asma jadi rentan kambuh jika kena bulunya.
    Selalu suka lihat bayi kucing yang lucu dan bener tega amat yang membuangnya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. gapapa,mbak.. kalau belum bisa berkomitmen memang jangan maksain. lebih baik berbagi makanan aja buat kucing2 liar. baik juga buat anak2 belajar berbagi buat makhluk lain ^_^

      Delete
  7. Saya baru tahu ini, Mbak Dhenok. ternyata ada juga induk kucing yang meninggalkan anaknya, karena tidak mau mengurusi ya, Mbak. Juga disebabkan karena hamil muda, atau terpaksa hamil.
    Dan ulasan Mbak ini sangat bermanfaat sekali. Jadi kalau pas menemukan bayi kucing, saya sudah paham. Selama ini, paling yang mampir ke rumah anak-anak kucing.

    ReplyDelete
  8. semoga jangan sampai nemu, mas. sutres haha.. tp mmg masih ada sih manusia yg jahat, misahin bayi2 dari induknya.

    ReplyDelete
  9. Aku gak suka kucing, maksudnya takut sama hhewan-hewan sekalipun kucing itu lucu,
    Karena dari dulu gak ada keluarga yg suka, gak pernah pelihara gituu, tapi setiap ada kucing yang mampir ke rumah bakal aku kasih makan, bukan makanan kucing sih tapi lebih kepada ikan atau lauk yang ada di rumah, berasa kesian ajaaa gituu

    ReplyDelete
  10. Bacanya jadi terharu karena sial bayi kucing menang merupakan masalah sosial yang kerap terjadi, anak kucing dibuang selalu ada di mana-mana. Padahal bagi yang peduli itu hal yang tidak manusiawi.
    Semoga Allah membalas kebaikanmu kepada sesama makhluk-Nya.

    ReplyDelete
  11. Jujur, saya malah tidak pernah kepikirin tentang bayi kucing. Tapi baca ini, ternyata banyak juga yah diluar sana yang tega secara langsung maupun tidak langsung untuk berproses membunuh bayi kucing. Jadi banyak belajar tentang bayi kucing di artikel ini. Keren

    ReplyDelete
  12. Belum pernah piara kucing, tapi makasih info Merawat Bayi Kucing Tanpa Induk

    ReplyDelete
  13. aduh informasinya bermanfaat sekali,semoga mbak dhenok diberkahi rezki dan kesehatan sehingga terus bisa berbagi dengan mahluk Tuhan yang lucu itu

    ReplyDelete
  14. Ya Allah Mbak... sabar dan telaten bangeeeet....

    Saya bacanya sudah pusing duluan karena banyak step-nya. Tapi dibaca juga karena penasaran. wkwkwk

    Semoga kebaikanmu membawa berkah ya Mbak.
    Luar biasa.
    Benar-benar luar biasa.

    ReplyDelete
  15. Salut buat yang berani ambil anak kucing terus dirawat dengan baik. Saya pelihara kucing juga sampai dia beranak pinak. Anakku juga suka sama kucing. Tfs ya mbak...

    ReplyDelete
  16. pasti susah banget ngerawatnya ang dari kecil, tapi kalau udah gede bisa sangat jinak. Pengalaman adeku yang ngerawat kucing dari kecil

    ReplyDelete
  17. Kalau sudah suka sama kucing, pasti merawat dari dia masih cilik pun no problem.

    Di rumah aku sering banget ada anak kucing yang lahir entah induknya kemana. Cuma aku belum pernah merawatnya sampai besar 😕

    ReplyDelete
  18. Salut Aku... Mb telaten sekali..sampe bikin box yg Imut Dan nyiapin mknn yg bergizi.

    ReplyDelete
  19. Kasian juga ya anak kucingnya tanpa induk, kita manusia aja tanpa induk pasti gak tau apa jadinya. Hiks :(

    Ternyata merawat bayi kucing tanpa induk itu penuh perjuangan. Saya blm pernah sih

    ReplyDelete