Gandalf Baby Grey, si Bayi Kucing Tanpa Induk

Warnanya abu putih. Dalam sekilas lintas melihatnya pertama kali, dia bayi yang paling kecil. Tak berasumsi apa-apa, pun tak berharap apa-apa. Karena merawat bayi kucing tanpa induk, kadang menjanjikan, kadang bikin deg-degan. Tapi kukatakan kepada mereka, "Ayo, ditemani ibu berjuang, ya, Bayi-bayi." Sayangnya, mereka memilih pergi. Satu tersisa, kupanggil Baby Grey. Baru pada jelang steril, kuberi nama resmi: Gandalf.


Baca juga: Merawat Bayi Kucing Tanpa Induk

Cerita mereka ini cukup dramatis sekaligus memunculkan rasa bersalahku. Dua bayi kutemukan sudah mati terluka. Kuduga, ada seekor penghuni yang kepo dengan keberadaan bayi-bayi dalam kandang. Colek-colek hingga mengalami luka. Itu dugaanku. Dua tersisa. Satu bayi putih kuning pucat dan Baby Grey. Aku lebih optimis dengan bayi kuning pucat, karena badannya yang tambun, lebih berisi. Ia sempat bertahan dua hari, lalu menyusul dua saudaranya yang lain.  


Muasal Baby Grey


Hari itu, seorang tetangga pagi-pagi datang ke rumah. Aku bukan tipe orang yang bersosialisasi. Jadi, kalau ada orang komplek yang datang ke rumah, kemungkinannya hanya terkait dengan iuran atau hal yang memang berkenaan langsung denganku. Benar saja. "Bu, ada bayi kucing dibuang di pos belakang." Lalu kenapa meski lapor ke Ibu Meong ya? Bukan kucing rumah juga. Apalah daya, manusia-manusia kucing memang sering katempuhan, bukan? Saat kucing yang ada di sekitar bikin ulah, kita dianggap terlibat. Namun begitu ada kasus kucing, kita yang pertama dikasih laporan. Ya, nggak?

Tapi, tentu saja tak mungkin membiarkan kabar itu sebagai sekadar cerita. Kuarahkan motor menuju pos jaga belakang. Empat ekor bayi merah, masih lengkap dengan tali pusar, kruntelan di dalam kardus kecil. Entah siapa yang membuangnya. Yang pasti, mereka adalah manusia-manusia yang tak mau direpotkan dengan urusan kucing sekaligus tak mau dianggap pembunuh karena membiarkan. Mereka hanya mampu menyerahkan tanggung jawab ke orang lain. Mati pun asal tak di depan mata mereka. 

                                                  
          Belanja hammock kucing di Lapak RumahRonin

Baca juga: Manfaat Collar Kucing

Apakah lantas mengelak? Tentu saja tidak. Seorang kawan menyebut itu sebagai curse, kutukan. Apa pun itu, tak ada pilihan lain, bawa pulang.  

Ini kali ke sekian aku ketiban ulah mereka yang buang bayi kucing tanpa induk. Sebetulnya agak parno juga, mengingat terakhir mengurus bayi kucing, berhasil melewati masa kritis saat pertumbuhan, tapi menyerah ketika ada serang panleukopenia. Tapi, sekali lagi, tak ada pilihan lain. Kali ini berusaha lebih ikhlas saja. Biarkan semesta yang bekerja.


Baby Grey dan Perjuangannya

Pada usia permulaan, bolak-balik bocah ini membuat was-was. Flu, diare, sampai yang kondisi lemas tak mau makan. Ajaib, dia bertahan! Gandalf the Grey tumbuh jadi pemuda meong yang lucu dan manja. Ia suka tidur di leher. Nempel ibunya sepanjang waktu. Pasti, buat dia, Ibu Meong adalah ibunya. Sosok pertama yang ia lihat saat belajar membuka mata. Yang memberinya susu tiap dua jam sekali. 

Dengan segala keterbatasan, aku berusaha memberinya yang terbaik. Susu premium yang satu kalengnya sebanding dengan jatah maksi Ibu Meong sebulan. Pun waktu yang kadang tak sinkron. Yang akhirnya memaksa ibunya begadang, demi kebutuhan susunya tetap tercukupi.

Baca juga: Onye dan Cicin Menuju 6 Tahun

Kini, hanya berharap ia terus tumbuh jadi pemuda meong yang sehat bersama keluarga RumahRonin. Sedikit nakal, tak soal, selagi sehat. Karena mendapati bayi kucing tanpa induk yang bisa tumbuh dengan baik sampai besar adalah sebuah keajaiban, sebuah berkah dari alam. Sehat terus temani ibu, ya, Gandalf the Grey!



Salam sayang,

Ibu Meong


No comments