Selamat Jalan, Bayi Jabrik Ibu

By dhenok hastuti - November 24, 2015


Hari-hari terakhir yang sangat singkat itu, aku menggendongnya..menenangkannya: “BJ sehat ya, rumahnya udah mau jadi. Nanti ibu bikin banyak tempat bermain buat BJ..” Aku begitu terpaku pada urusan penyelesaian rumah yang memang untuk mereka, untuk anak-anak meong. Tapi aku abai terhadap kondisi kesehatannya. Maafin ibu ya, BJ, bayi cinta ibu.. 


Sejak kepergiannya, aku mencoba mengalihkan perhatian. Banyak yang harus dikerjakan. Perbaikan rumah yang belum selesai, rencana produksi baru yang menyita energi, penjualan barang-aneka dan apa saja demi kelancaran bahan bakar sehari-hari, memang cukup mengalihkan fokus. Tapi tentu saja aku tak lupa. Aku tak akan bisa melupakan kebodohanku. Beberapa kawan menghibur, ‘jangan menyalahkan diri sendiri, mbak’.. Terimakasih sudah berusaha menghibur, kawans. Tapi itu tak menghibur karena aku memang salah. Dan karena kesalahanku, BJ pergi..


Seperti yang sempat kucatat di facebook, proses kepergian BJ cepat. Tapi mungkin mustinya tak  begitu kalau aku lebih memperhatikan kondisi BJ. Kamis malam BJ diare. Aku tak curiga panleu. Karena dari sekian pengalaman anak-anak terkena panleu, kotorannya bau sekali. Bau busuk. Ini biasa saja. Aku memberinya obat diare anak. Makannya masih banyak. Masih berantem-beranteman sama Beru. Masih nyolong-nyolong maen ke luar rumah. Jumat pagi –kalau kuingat-ingat, nafsu makannya menurun. Dia kuat sekali makan kepala ayam. Tapi.. hari itu aku beli kepala ayam dari tukang sayur yang lewat. Ukurannya terlalu besar dari yang BJ suka. Kupikir itu yang jadi alasan. Dan dia bukan tak makan sekali. Dia masih makan leher-leher ayam itu, meski tak menghabiskannya dan tak banyak. Aku memberinya vitamin harian standar. 

Urusan perbaikan rumah yang dimulai dari 10 Oktober lalu ini memang sungguh menguras energi. Selain secara teknis, aku dan anak-anak yang tetap tinggal di antara debu dan suara berisik peralatan, juga terkait biaya. Awalnya rencana perbaikan hanya untuk satu kamar, sebagai gudang penyimpan dagangan, makanan kucing dan produk meong lainnya. Lalu terlintas: mumpung bongkar-bongkar, kenapa tak sekalian saja? Kenapa hanya gudang dan tak sekalian jadi outlet? Konsekuensinya tentunya berbeda. Ya sudah, kuputuskan sekalian. “Mari, anak meong, kita kumpulkan rupiah lebih banyak.” Kusemangati diri sendiri. 


Like dan Follow FP Facebook Instagram Facebook RumahRonin

Tak lama berselang, datang complain dari tetangga. Baru kali ini kudengar keberatan yang disampaikan secara langsung. Dan aku pun menanggapinya serius. Baik, beberapa bagian rumah tampaknya perlu dibongkar. Dengan kata lain aku perlu menyiapkan banyak hal pula. Di antara keriweuhan itu, Een - stray cat yang baru kusterilkan, baru menunjukkan anak-anaknya. Dan keluarga kecil itu semuanya sakit! Kukarantina mereka di rumah kosong tak jauh dari rumah. Merawat mereka dengan makanan-vitamin-obat secara intensif, pagi dan malam. Dan aku lengah. Aku lengah memperhatikan BJ.

 
Cerita di atas bukan sebagai excuse. Sama sekali bukan. Banyak yang kukerjakan-kupikirkan-kuperhatikan, iya. Tapi bukan berarti aku kehilangan fokus pada anak-anakku. Aku berkomitmen untuk merawat mereka. Mustinya aku bisa melakukan lebih baik. BJ ada tanda tak sehat, harusnya aku memperhatikannya lebih teliti. BJ ada tanda tak bagus, dan aku masih berpikir BJ akan baik-baik saja. Ya, aku cerita di atas sama sekali bukan excuse. Aku sudah melakukan kesalahan, dan bagaimana pun aku salah. Pada penanganan sebelumnya, aku membuat batas tiga hari. Dia diare Kamis, maka Sabtu atau maksimal Minggu aku harus membawanya ke dokter kalau kondisinya memburuk. “BJ baik-baik saja, dan BJ tak akan lebih parah”. Entah kebodohan dari mana yang bersemayam di kepalaku. Dan aku pun tak berusaha keras mencarikannya wetfood khusus gastro, seperti yang pernah kulakukan sebelumnya pada Kuro-menyuapinya secara berkala. Aku hanya menyuapinya dengan wetfood biasa. Dan dia masih makan. Aku masih berpikir ‘BJ akan baik-baik saja’. Hingga aku menyadari Minggu malam kondisinya buruk. Senin siang kubawa dia sekalian berangkat siaran. Tapi dia pergi. BJ, bayi kesayanganku pergi.



BJ adalah bayi buatku. Bukan semata karena dia masih kecil, usia-usia yang memang selalu kusebut bayi. Tapi karena sosoknya yang lucu dengan badan yang empuk, sifatnya yang penurut, digendong-dipeluk-dicium tak pernah nolak. Dia bayi buatku. BJ bayinya ibu meong. Dulu, saat baru masuk rumah, aku sering mencurinya dari pelukan emaknya. Lalu membawanya tidur bersamaku, meski malamnya dia kembali ke emaknya. Dia tak manja. Bukan tipe kucing manja seperti Cici yang dikit-dikit minta gendong atau cium-cium ibunya. BJ tak manja, dia bayi yang penurut. Dan tentu saja kelakuan kocaknya tiap makan.


Pada setiap pagi dia antusias menunggu kepala ayam. Dari awal dibawa emaknya ke rumah, makannya kuat. Dan sangat doyan kepala ayam. Persisnya sebetulnya leher ayam. Dia tak suka pentul kepalanya. Makannya berisik. Jadi, setelah kepala ayam tersaji di piring bersama, ia akan menggondol satu lalu membawanya menjauh. Sambil mengomel seolah ada yang mau merebut. Lalu dia meninggalkan pentul kepalanya begitu saja. Biasanya Mimi yang menghabiskan. Kalau tidak, setelah selesai acara makan ibunya akan memunguti pentul-pentul kepala yang tersebar di beberapa tempat itu. Kalau makan 10 kepala ayam, ya dia akan memakannya di 10 tempat terpisah. Bayi meong yang aneh 😀

BJ, bayi meong empuk lucu. Kubayangkan dia akan tumbuh jadi pemuda meong yang menyenangkan. Dia tak agresif seperti Beru. Tapi dia juga tak manja seperti Bi’i. Ia seolah menjadi penengah buat dua kakaknya itu. Tapi dia pergi. BJ sudah pergi. Tak akan kulihat lagi mata sendunya menatapku. Berisiknya dia kalau mengunyah makanan. Kenakalan dia nylonong keluar pintu untuk bermain di luar rumah, atau mengintipku dari balik korden saat aku mau meninggalkan rumah atau baru pulang. Tak kuliat lagi dia guling-guling atau jilat-jilat perut buncitnya. Atau empuk badannya yang lelap di sebelahku. Aku rindu menciuminya. Dia tak pernah berontak. Dia tak pernah menolak. BJ bayi meong ibu yang baik. Maafin ibu ya, nak.. maafin ibu.

 
BJ sudah pergi. Dan kembali, pada akhirnya semuanya menjadi pembelajaran. Pada akhirnya aku kembali dihajar untuk kembali belajar tentang kehidupan pada kematian. Sungguh hajaran yang melukakan. Selamat jalan, bayi cinta. Ibu sayang BJ ya...


Baca cerita sebelumnya: Mak Jabrik dan Bayi Kucing Baru
  

  • Share:

You Might Also Like

0 comments