Mak Jabrik dan Bayi Kucing Baru

By dhenok hastuti - August 22, 2015


Sebentuk wajah mungil muncul dari balik pot tanaman. Oh my...bayi darimana ini? Kulihat perut Mak Jabrik masih terlihat penuh. Mak Item juga tak tampak bunting. Siapa kamuuu? Dia menyelinap di balik tanaman. Mata bulatnya menatapku dari balik dedaunan. Bayi baru lagi? Duh..




Anak-anak di rumah ada 9. Tapi di luar ada beberapa kucing yang suka hadir pada jam-jam makan. Beberapa kawan punya istilah indoor dan outdoor. Indoor untuk kucing-kucing yang segala aktivitasnya di dalam rumah, kalau pun keluar rumah sekali waktu saja. Outdoor untuk kucing-kucing di luar yang ikut ‘ditanggungjawabi’ kehidupannya. Nah, aku tidak (atau belum) bisa menyebut demikian. Karena pengistilahan pun buatku artinya adalah komitmen. Aku menyebut mereka –para kucing liar di luar sebagai-  stray. Ada tanggungjawab yang berbeda. Bukan berarti aku mengabaikan kalau mereka sakit, aku pasti akan melakukan sesuatu tapi tak akan seintens aku melakukannya untuk anak-anak di dalam rumah. Aku baru mampu sebatas memberi mereka makanan dan vitamin atau obat secukupnya. Nah, beberapa stray yang tak pernah absen adalah Mak Jabrik dan Mak Item. Sudah lama aku mengagendakan steril buat keduanya. Tapi akhirnya berbagai hal lain yang lebih menjadi prioritas. Terutama terkait kesehatan anak-anak yang sedang banyak masalah.


Aku tak ingat sejak kapan Mak Jabrik dan Mak Item mulai ke rumah. Yang aku cukup ingat adalah Mak Jabrik yang awalnya sering terlihat di depan sebuah rumah dari tetangga yang baru pindah. Dulu kuduga dia dipelihara tetangga tersebut karena sempat kulihat pula ada kucing gondrong yang dikurung dalam kandang. Untuk kurun sekian lama aku cukup memperhatikan meski sambil lalu. Sempat menimang bayinya, ketika si Mak baru melahirkan. Tapi tak berapa lama berikutnya anaknya tak ada. Bunting lagi lalu ada anaknya yang lain. Entah berapa kali kuperhatikan. Sekali sempat kudengar cerita dari anak-anak yang suka kepo sama meong-meong rumah, anak Mak Jabrik mati. Terlindas motor. Saat itu sekalian kutanyakan kenapa kucing gondrong tak kelihatan lagi. Jawabnya: dijual. Hmm..dijual. Apakah Mak Jabrik sebetulnya awalnya dipelihara dan lantas diabaikan ketika kebobolan bersama garong? Ah, aku tak melanjutkan dugaan-dugaanku. Tak merasa perlu konfirmasi juga. 

Mak Jabrik bunting lagi. Kulihat dia beberapa kali pindah lokasi ke beberapa rumah kosong. Hingga suatu malam kudapati dua bayinya diserang garong. Mati. Aku sempat mendapati salah satunya masih bernafas. Tak lama kemudian bayi mungil itu menyusul saudaranya. Setelahnya Mak Jabrik jadi sering ke rumah untuk minta makan. Aku mulai lebih cermat mengamati. Matanya buta sebelah. Bekas chlamydia? Entah. Perutnya bengkak. Bunting lagikah? Entah juga.. Aku tak mau memikirkannya. Aku melanjutkan saja ‘kewajiban’ memberinya makan dan minum. Hingga hari itu, sekitar seminggu sebelum Lebaran, tiba-tiba sosok bayi umur sebulanan muncul di halaman. 

 
Awalnya agak meragukan. Selain perut yang masih tampak buncit, awalnya tak kulihat ada kedekatan antara Mak Jabrik dan si bayi. Hingga kemudian di ujung hari kudengar ‘meongan emak memanggil anak’. Ah, sungguh mengharukan. Meongan itu di kupingku terdengar indah. Dan begitu saja ‘rasa’ itu telah mengubah banyak. Aku merasa perlu memberikan perhatian ekstra ke emak. Kalau sebelumnya hanya kusediakan makan di piring di halaman, kini selalu kupastikan emak makan dengan benar. Tak boleh kelaparan karena dia punya bayi; menyusui. Kusediakan kandang kecil di teras rumah. Senang sekali mendapati anak beranak ini mau memanfaatkan kandang. Udara dingin di luar, itu yang kubayangkan. Tapi aku pun tak sanggup untuk membawa mereka masuk ke rumah. Kupikir: mungkin sekarang aku bisa punya istilah ‘kucing outdoor’. 

 
Tapi lalu si emak bikin khawatirkan. Seperti kita tahu, pada masa tertentu kucing membawa anaknya berpindah tempat. Ada yang mengatakan kucing mengajak anaknya berpindah-pindah tempat hingga tujuh kali. Entah apa teori itu betul-betul berlaku. Beberapa kali aku melompat pagar tetangga (yang sedang mudik) hanya untuk mengambil si bayi yang disimpan di bawah mobil. Tak mudah, karena si bayi belum mengenalku. Jadi ibu meong dipaksa ndlosor-ndlosor di bawah mobil. Ck ck ck.. segitunya. Mungkin begitu kata orang. Tapi yang kupikir hanya si bayi saat itu sudah mulai belajar makan. Emaknya makan sendiri ke rumah, sedangkan anaknya ditinggal di bawah mobil. Kan ga tega to?
 


Lalu ada informasi dari kawan-kawan permeongan akan diadakan baksos steril. Tak berpikir dua kali, daftar. Apalagi sebelumnya ada customer Aa Naga yang sengaja memberikan uang lebih untuk belanjanya. Cukup buat mensterilkan emak. Dan tentunya dengan catatan: perut si emak buncit, ada kemungkinan punya sakit tertentu. Hari-H datang juga. Emak akan pergi steril. Kubawa serta si bayi. Lumayan, sambil menunggu jadwal dia masih bisa nyusu emaknya. Aku menitipkan mereka ke kakak-adik Indah dan Ayu yang ikut steril juga dan mengendarai mobil. Karena membawa dua sekaligus untuk jarak cukup jauh, Cikoneng-Pasteur, agak riskan. 
 
Kali ini aku deg-degan, entah kenapa. Aku sudah mensterilkan sekian anak. Bisa jadi membayangkan kemungkinan buruk yang bakal menimpa emak, sementara aku masih menikmati keharuan menyaksikan hubungan mereka, ibu dan anak ini. Pernyataan dari salah satu vet sempat bikin kalut, meski dalam hati aku tak yakin. Disebutkan si emak kemungkinan FIP basah. Sejauh yang kutahu, FIP menyerang kucing di bawah setahun. Jarang dijumpai kasus terjadi pada kucing dewasa. Aku tak tahu umur si emak. Tapi kurasa dia sudah lebih dari 5 tahun. Vet menyebutkan kemungkinan yang terjadi kalau pembedahan dilakukan terhadap kucing FIP basah. Kubilang: aku ambil risiko. Maka begitulah, emak dioperasi. Aku tak yakin dengan diagnosa FIP itu. Tapi tak urung kabar itu membuatku sedih. Kupilih warung tenda kupat tahu untuk bersedih-sedih. Tentunya sambil tetap berharap emak akan baik-baik aja.

Operasi tuntas. Kabar baik kuterima dari mbak Edhi Purwa: emak juga kebanyakan lemak di perut. Tapi katanya ditemukan pula miyom di rahimnya. Semoga tak menyebar. Setidaknya saat ini emak aman, tak terpaksa bunting lagi.


Sejak beberapa hari sebelum operasi –karena menghindari dia pergi jauh sebelum steril- emak ‘terpaksa’ dibawa masuk rumah. Dan setelah operasi tentunya juga tak bisa membiarkan dia keluyuran di luar. So, artinya? Artinya mereka menjadi warga keluarga kucing Cikoneng. Kalau ada yang mau mengadopsi, aku akan mensyaratkan ‘mereka tak boleh berpisah’ alias harus diadopsi berdua. Sementara ini mereka akan berbagi ruang dan makanan seadanya dengan saudara-saudara meongnya yang lain. Agak khawatir karena masih ada penyakit yang belum mau hengkang dari rumah ini. Semoga mereka selalu sehat yaaa.. 



Bayi Jabrik ternyata gampang adaptasi. Tak manja memang, tapi tak lagi takut sama ibu. Pun sama saudara-saudaranya. Gampang adaptasi dan cuek. Dia merekatkan bayi Beru dan bayi putih kuning. Dia mau mendekati kucing-kucing senior lainnya. Dia bermain dengan cerita; lari-lari, panjat pohon, main ayunan.. Semoga ia tumbuh sehat hingga besar nanti.


Update:
BJ tak bertahan sampai dewasa. Saat dipersiapkan untuk ikut steril 1-2 bulan lagi, mendadak dia sakit. Lagi-lagi: panleu 😓 BJ terbang saat dibawa Ibu Meong ke studio siaran, sebelum ketemu dokter di waktu yang dijanjikan. Baca ceritanya di sini: Selamat Jalan, Bayi Jabrik Ibu

  • Share:

You Might Also Like

0 comments