Rest In Love, Beautiful Princess Temong

By dhenok hastuti - November 11, 2019


“Temong, maafin ibu ya, ga bisa lebih baik lagi ngerawat Temong. Tapi ibu sayang banget sama Temong. Kamu tuh anak cantik ibu yang baik, ga pernah macem-macem. Makasih banget udah lima tahun nemenin ibu. Temong kalau mau pergi, ga apa-apa. Ibu ikhlas. Ga usah takut juga. Nanti ketemu Om Naga, Kak Mimi, Menik-Batik-Kuro...” 

Kubisikkan kalimat itu berulang sepanjang hari kemarin. Dan pagi tadi, dia pergi. 


Sedari awal melihat kondisinya kesehatannya yang menurun, aku mengikhlaskannya. Lima tahun tentu saja bukan waktu yang singkat. Dia menemaniku melewati pasang-surut kehidupan. Tapi sejak kehilangan anak-anak saat serangan wabah panleu yang lalu (aku belum sanggup membagikan catatannya), aku berusaha mengubah mindset. Sebetulnya bukan mengubah, tapi kembali mengingatkan dan memperjelas saja. Tentang hidup yang bukanlah milik kita. Tentang kita yang semata memegang amanah untuk menjaga kehidupan. Ya, tentu saja aku sayang anak ini. Princess Temong...

Lima tahun dia menemaniku, dengan ke-diam-annya, dengan sikap manisnya, dan tentu saja dengan wajah cantik eksotisnya.


Temong, anak yang 'tak sengaja' menjadi anggota keluarga. Seperti para stray di sekitar rumah, ia ke rumah untuk sekadar minta makan. Tak terpikir untuk adopsi karena terhitung cukup dewasa. Kurasa saat itu umurnya 4-5 bulanan. Selain itu, ia sering datang ke rumah tak lama setelah Onin pergi, dan kondisi Iku makin parah. Ketambahan lagi, 2014 itu aku ancang-ancang resign dari kerjaan kantor. Hingga suatu kali ia datang dalam keadaan bunting. Sudah diagendakan untuk steril, tapi kurasa masih terlalu muda dan keuangan masih pabetot-betot dengan kebutuhan lain. Saat bunting inilah dia sering masuk rumah. Ga tega juga usir emak-emak bunting. 
 
Temong yang masuk rumah dalam kondisi bunting. September 2014.

Lalu dia melahirkan saat aku ke luar kota. Teteh yang kutitipi rumah melapor: "Temong ngelairin di kasur...kasurnya penuh darah."

Hih sudah berasa rumah sendiri aja dia..yang empunya rumah lagi pergi teh!

Tinggal di kardus yang kusiapkan, ya..di dalam rumah, anak-anak Temong tak bertahan. Entah sakit atau mereka lahir sudah dalam kondisi lemah. Empat ekor, satu per satu pergi hingga habis. Dan dia menetapkan diri sendiri sebagai anggota keluarga. Kalau dikasih bermain di luar, sebentar saja sudah langsung masuk rumah. Khawatir diusir 😂😂😂 Kebetulan ada benih-benih scabies di kupingnya. Jadilah diobati rutin. Makin punya alasanlah dia untuk menetap. 



Temong anak manis. Dia tak pernah merepotkan ibu. Poop-pee tertib di litter. Makan dikasih apa saja mau. Sesekali bermanja, nyungsep tidur di ketek ibu. Temong juga suka mijit. Tanpa aba-aba, sering dia langsung memijit kaki ibu dengan khidmat.

Beberapa bulan terakhir badannya mengurus. Rasanya langsung nglokro..teringat Naga, Mimi, Batik. Makan dan minum masih relatif bagus. Aktivitas juga masih normal. Aku memberinya makanan khusus, dan raw ayam sesekali. Vitamin berkala. Agak tak teperhatikan saat ada serangan wabah panleu. Lalu prosesnya berjalan dengan cepat. Terakhir masih sempat kubeli fillet ayam, khusus untuk dia. Temong suka banget raw ayam. Masih beku, belum sempat dikasihkan. 

Temong suka raw ayam. Foto untuk promo ayam segar 2016

Gapapa ya, Mong...di surga banyak makanan enak yang Mongmong pasti suka. Udah sehat lagi, lari-lari...maen di rumput seperti waktu rumah belum ditutup. Waktu kamu naik-naik tembok tetangga. Dan dari jauh ibunya manggil: Mong mong moooooong... Love you, Princes Temong 💓💓💓
 
The Beautiful Princess Temong

  • Share:

You Might Also Like

0 comments