Batik Meong, In Memoriam

By dhenok hastuti - February 03, 2018


Sebuah pagi buta di jelang akhir Maret 2013 pecah oleh suara tangis anak kucing. Mendadak, begitu saja. Artinya, ada yang baru meletakkan si bocah, begitu saja. Keluar rumah, kudapati seekor kucing dewasa berlari panik. Kubayangkan mereka ibu dan anak, dibuang oleh siapa entah dari mana. Si emak panik dan kabur. Dan tinggallah si bocah cengeng menangis sendirian.


Kemudian kunamai dia Tama, seperti nama kucing kepala stasiun di Jepang. Omnya, Naga Chan, panggil dia batik, karena corak eksotisnya. Ya, batik kecil cengeng, suka merengek di masa kecilnya. Yang bikin aku berpikir kalau dia betina.

Like dan ikuti cerita kucing Cikoneng di FP FB Rumah Ronin

Si kecil cengeng ini pun tumbuh, besar. Paling besar di antara saudara seangkatannya, bocah-bocah temuan yang lain: Shachou dan Kuro. Anak yang sehat dan manja dibanding dua saudara betinanya. Dan ketika Shachou​ dan Kuro ngabolang dengan caranya masing-masing, Batik Tama memilih bertahan di rumah. Manusia yang dia kenal hanya ibunya dan teteh (yang sering bantu di rumah. Lain tidak. Dia tak pernah mau didekati manusia lain. Anak yang manis, penakut, dan manja, sekaligus jorok. Pasca ‘berkarya’, setelah dimarahin ibunya, dia akan mendekati ibu, dusel-dusel2..minta dipangku, tanpa merasa bersalah. Kadang malam kutemukan dia tidur di sebelah. Guling batik yang empuk.


Jangan lupa follow IG Rumah Ronin @rumahronin yaaa
 
Batik tak pernah sakit. Nyaris engga. Pada gangguan kesehatan yang terakhir-terakhir  (sekitar 6 bulan terakhir) dia alami, aku sudah memeriksakannya ke dokter. Dua dokter yang berbeda malah. Tiga, dengan dokternya yang terakhir. Tapi penyakit terkait metabolisme ini memang butuh pengecekan lebih lengkap. Dan penanganan lebih dini lebih baik. Sayangnya gejalanya tak terdeteksi dengan jelas, bahkan vetnya pun tak memberikan rekomendasi pengecekan lanjutan. Sehingga baru ketahuan saat keadaan sudah tak cukup baik. Ah, kematian selalu bikin kita berandai2. Andai... andai... andai...


Tapi mungkin inilah jalan pulangnya. Jalan pulang anak lanang ke jembatan pelangi. Padahal bulan ini dikira-kirakan sebagai ulang tahunnya. Makasih ya, anak ganteng ibu untuk lima tahun yang penuh warna. Selamat menyeberang dan bergabung dengan om kesayangan dan saudara-saudara yang lain. Ibu sayang Aa Batik ❤❤❤

 
Makasih, semua Om-Tantenya Batik, untuk ungkapan belasungkawa. Terimakasih juga selalu mengapresiasi aneka cerita anak ini dari Om Naga (sekarang akunnya dipegang Cicin Cinnamon).

  • Share:

You Might Also Like

0 comments