Wawa, Si Kucing Sawah Bermata Sendu

By dhenok hastuti - February 03, 2015


Sepuluh tahun lebih berlalu-lalang di jalan persawahan menuju rumah, belum pernah ada seekor kucing mendatangiku saat kupanggil. Baru kali ini terjadi, perjumpaanku dengan bayi kucing di tengah sawah, yang kemudian kunamai Wawa.

 


Pada berapa kali perjumpaan dengan kucing liar di area sawah, kalau tak lupa berbekal makanan, biasanya kupanggil mereka. Dan biasanya tak ada yang mau datang. Mereka tampak tak biasa dekat dengan manusia. Jadilah makanan kering kutinggalkan di sebuah tempat, dan mereka akan mengunyah makanan itu ketika aku beranjak pergi. Sebetulnya bukannya sama sekali tak ada yang bersahabat. Jauh sebelumnya, pernah kubawa pulang seseekor yang mengikutiku sepanjang jalan. Ketika itu bukan karena jatuh iba, tapi karena unik. Kucing kuning belang putih itu berlari membarengi motorku hingga jarak sekitar 150 meter. Aku berhenti, dia berhenti. Aku jalan, dia ikut jalan. Lucu. Lalu aku berhenti dan membawanya di balik jaketku. Kucing remaja itu kunamai Sunny, sempat beberapa lama tinggal di rumah dan kusterilkan. Sehat dan ganteng. Seorang tetangga belakang rumah ingin mengadopsi. Lalu entah kenapa dia tak pernah pulang ke rumah itu, entah pula pergi kemana.. Ah, semoga Sunny ganteng baik-baik saja.
 
Ya, Wawa berbeda dengan Sunny. Pada malam itu, gerimis mengiringi perjalananku. Pada sebuah titik terdengar meongan kucing kecil. Duh, anak siapa juga bisa berada di jalanan area sawah? Aku menghentikan motor, mencari arah suara. Seekor kucing kecil kuning-putih muncul dari balik rumput semak. Kupanggil, kutunggu reaksinya. Dan dia mendatangiku! Bayi kucing itu mendatangi motorku. Oh my..kamu masih terlalu kecil untuk berada dia area ini, pusss.. Kugendong dia di dada, kujalankan motor pelan-pelan hingga ke rumah. Dia tak berontak. Diam dan tampak menikmati perjalanan.


Setelah beberapa hari karantina, Wawa kecil menikmati kebebasannya. Menikmati perkenalannya dengan saudara-saudara meong yang lain. Sempat kutawarkan adopsi. Tapi kubatalkan begitu ada yang bertanya tentang 'berapa yang harus dibayarkan' untuk menebus Wawa. Langsung bikin ilfeel, dan kuputuskan untuk merawat sendiri dengan harapan rejeki ke depan makin baik. Terlebih setelah melihat keakrabannya dengan Amo, bayi kucing yang kuadopsi lebih dulu. Dia menjadi kakak buat Amo. Berdua juga mereka mengalami masa sulit, berjuang melawan diare. Dua kali. Dua kali secara bergantian mereka menguji kesabaran ibunya untuk merawat mereka. Ah, kalian anak-anak manis. Pastinya ibu akan berusaha. 

 
Wawa memiliki mata yang kocak. Hmm..bukan kocak sih, persisnya sayu. Bocah meong ganteng bermata sayu. Berbeda dengan Amo yang sangat doyan makan; yang suka ganggu ibunya makan, Wawa lebih mirip om-nya. Om Naga meong yang malas makan. Tapi Wawa aktif. Dia aktif cenderung nakal. Naik pohon mah biasa. Sedari awal dia sudah mulai menjelajahi area atap. Setelah dua kali diare parah, Amo-Wawa sehat-sehat saja. Hingga kemarin, tiba-tiba Wawa lebih banyak diam dan tidur lebih lama. Pertanda sakit. Tapi tak kuduga akan secepat itu. Kemarin dulu dia masih makan-minum biasa. Kemarin malam, sampai rumah kudapati cairan muntahan. Tak salah lagi, Wawa sakit. Kukarantina. Dan malam itu menjadi malam yang mencemaskan. Wawa kembali muntah-muntah pada sepanjang malam. Makanan halus ditolak. Air madu dimuntahkan lagi. Aku tahu ini di luar kemampuanku lagi. Pagi tadi kubawa ke vet. Opname. Belum ada diagnosa, karena aku harus pergi. Pemeriksaan laboratorium belum ada hasil. Berharap bukan sesuatu yang buruk. Berharap Wawa kembali sehat dan kembali bermain bersama saudara-saudaranya.

Sehat lagi ya, Wawa, bocah meong ganteng bermata sayu..



Update:
Wawa akhirnya menyerah, meninggal di klinik. Menyusul kemudian anak kecil, kami memanggilnya si bayi, yang meninggal di meja periksa. Panleu memang mengerikan. Hanya Amo yang berhasil lolos. Itu pun setelah lima hari opname, lanjut 10 hari karantina di rumah.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments