Kucing dan Satwa Liar Turki Yang Menjadi Kesayangan

By dhenok hastuti - September 08, 2020

Para pecinta kucing pasti tahu kan ya, kalau Turki adalah negara yang memperlakukan satwanya dengan manusiawi. Bukan sekadar tahu, mungkin para pecinta kucing bahkan menjadikan Turki sebagai salah satu negara impian untuk dikunjungi. 

Foto koleksi Ega

Ada ribuan kucing dan anjing yang dapat dengan mudah ditemukan di sudut-sudut kota. Bahkan unggas juga leluasa berkelana di antara riuhnya manusia. Tak heran jika ada yang menganggap manusia hanyalah tamu di antara para satwa. Kucing dan anjing dalam kondisi gendut dan sehat meringkuk di area-area yang sekiranya nyaman buat mereka. Tak ada manusia yang mengganggu. Malah, sudah menjadi kebiasaan bagi orang yang lalu-lalang membagikan makanan yang dengan sengaja mereka siapkan.

Foto: tribun news

Kondisi tersebut tentu saja tak lepas dari kebijakan pemerintah setempat. Karena jika kepedulian semata warga tak dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang ramah satwa, kondisi itu tak mungkin tercipta. Pemerintah kota menyiapkan anggaran untuk pembangunan shelter atau rumah-rumah mungil untuk anjing atau kucing, terutama pada musim dingin. Kok bisa sih, Turki bisa menjadi seramah itu terhadap satwa? Bagaimana sejarahnya?

Foto: kompas

Mengutip tribuntravel dot com, sejarah mencatat kucing-kucing di Istanbul sudah ada sejak zaman Kekaisaran Ottoman. Konon, kapal-kapal yang berlabuh di Konstantinopel sengaja memelihara kucing sebagai pengendali tikus. Nah, saat berlabuh diperkirakan banyak kucing yang turun dari kapal, hidup di area kota dan berkembang biak. Sesungguhnya catatan ini juga tak menjawab bagaimana proses masyarakat Turki yang ramah satwa. Yang jelas, kondisi tersebut dikenal dunia. Sebuah film dokumenter pernah dibuat, memotret kehidupan kucing liar di Istanbul. Film yang makin mempopulerkan kebaikan hati masyarakat Turki terhadap satwa liar, kucing utamanya. Film bertajuk Kedi tersebut disutradarai Ceyda Torun dan ditayangkan perdana di Festival Film Independen Istanbul 2016. Kedi juga ditayangkan di banyak negara, seperti Amerika Serikat, Swedia, Finlandia, Australia, dan Singapura. Para penggermar kucing dunia pun dengan sukarela ikut menyebarluaskan film tersebut melalui media sosial.  

Foto: travel detik

Memang, media sosial juga punya andil penting dalam penyebarluasan cerita kucing Turki. Tentang Gli yang tinggal di Hagia Sophia, misalnya. Dari yang dibagikan wisatawan yang berkunjung ke Turki, lantas memotret Gli menjadi salah satu agenda saat berjkunjung ke bangunan bersejarah Turki tersebut. 

Foto: lonely planet

Atau Tombili, yang difoto saat bersantai di tepi jalan kota. Foto kucing putih hitam bertubuh tambun tersebut entah sudah dishare berapa ribu kali. Lalu netizen ikut sedih saat terdengar kabar Tombili sudah menyeberang. Kota Kadıköy membuat patung perunggu sosok Tombili, sebagai maskot wilayah tersebut.

Foto: travel kompas

Semoga di tanah air kita, mendatang orang lebih ramah satwa liar ya. Semoga pemerintah juga punya kebijakan yang mendukung.


  • Share:

You Might Also Like

0 comments